Jenis Bidara Untuk Sunnah dan Sihir

Saya mencoba untuk mengulas jenis-jenis bidara, yaitu bidara upas, bidara laut, bidara cina, putsa atau apel India, dan bidara yang berasal dari daerah Saudi Arabia.

Hal yang mendorong ulasan saya ini dikarenakan banyaknya pertanyaan melalui SMS maupun Telepon yang menanyakan tentang hal ini, yang sebenarnya ada beberapa jenis yang akan saya bahas sebenarnya bukan termasuk dari tanaman bidara, akan tetapi ada kemiripan secara fisik ataupun nama.

Memang suatu hal yang wajar bila pertanyaan itu dilontarkan, karena rata – rata pembeli bibit pohon bidara menginginkan daun bidara yang dapat digunakan untuk pelaksanaan sunah dalam Agama Islam. Hal ini sangat penting untuk diketahui, maka bacalah artikel ini secara keseluruhan supaya kita tidak salah dalam memilih bibit pohon bidara yang kita pergunakan untuk melaksanakan sunah-sunah bagi pemeluk Agama Islam.

Dan saya banyak membaca di beberapa blog yang memberikan informasi yang kurang tepat tentang jenis-jenis bidara ini, terkadang artikelnya tentang bidara upas tapi gambarnya bidara laut atau sebaliknya, ada artikel tentang apel India tapi isi artikelnya tentang bidara cina dst. Baiklah langsung saja saya mulai membahas dari nama botani dan klarifikasi ilmiah masing – masing tanaman.

jenis daun bidara 1024x304 Jenis Bidara Untuk Sunnah dan Sihir

bidara upas, bidara laut, bidara cina, putsa/ apel india, sidr

Dari tabel diatas maka dapat kita lihat bahwa yang merupakan jenis pohon bidara ada 3, yaitu bidara laut, bidara cina dan Sidr / bidara yang berasal dari daerah Arab. saya akan mejelaskan satu persatu jenis jenis ini secara singkat.

Bidara Upas

Bidara upas adalah tumbuhan umbi-umbian yang merayap atau membelit yang panjang tingginya dapat mencapai 3-6 m. Daunnya berbentuk bulat telur melebar, dengan pangkal berbentuk hati. Umbinya mirip kentang, dan berbeda dengan areuy carayun (Merremia peltata) yang satu genus dengannya. Umbi bidara upas berkumpul hingga 6-7 buah dan beratnya dapat mencapai 5 kg atau lebih seumpama tumbuh di tanah kering, gembur, dan tidak tergenang air. Warna kulit umbinya kuning kecoklatan, kulitnya tebal bergetah warna putih, bila kering warnanya menjadi coklat.

Perbungaannya majemuk, yakni sejumlah 1-4 kuntum, membentuk payung, berwarna putih, dan apabila menjadi buah, kelopaknya tidak gugur. Bijinya berwarna kelabu sampai hitam, dengan pinggirannya yang berbulu kecoklatan.

Bidara upas Jenis Bidara Untuk Sunnah dan Sihir

daun bidara upas

Kesimpulan yang saya ambil bahwa bidara upas ini bukan pohon bidara yang dimaksud didalam Al-Quran AL WAAQI’AH ayat 28: berada di antara pohon bidara yang tak berduri. Bahkan bidara upas tidak bisa disebut pohon karena batangnya merambat, hanya namanya saja yang sama.

Bidara Laut

Bidara laut (Ziziphus mauritiana) adalah sejenis pohon penghasil buah yang tumbuh di daerah pantai atau di pinggir-pinggir laut. Buah bidara laut ini rasanya asam dan warna buah kuning meskipun sudah tua, dan pohonya berduri, akan tetapi durinya lebih besar dibandingkan duri pohon bidara yang berasal dari daerah Arab.

IMG 2685 1024x459 Jenis Bidara Untuk Sunnah dan Sihir

gambar daun bidara laut

Bidara laut termasuk dari jenis ziziphus atau bidara, dan anda dapat menemukannya dipinggir laut, saat saya menemukan pohon ini sedang berbuah, dan dikenal oleh masyarakat disekitar pantai untuk mengobati mabuk laut.

Bidara Cina

Bidara Cina, Ziziphus zizyphus ataujuga disebut ziziphus jujuba (dari bahasa Yunani ζίζυφον, zizyfon), biasa disebut jujube (kadang-kadang jujuba), kurma merah, kurma Cina, kurma Korea, atau kurma India adalah spesies Ziziphus atau bidara dalam keluarga buckthorn (Rhamnaceae), digunakan terutama sebagai pohon rindang yang juga berbuah.

bidara cina Jenis Bidara Untuk Sunnah dan Sihir

daun bidara cina

Bidara Cina ini merupakan tumbuhan pohon kecil atau semak mencapai ketinggian 5-10 meter (16-33 kaki), biasanya dengan cabang-cabang berduri. Daun mengkilap hijau, bulat telur-akut, 2-7 cm (0,79-2,8 dalam) dan lebar 1-3 cm (0,39-1,2 dalam) luas, dengan tiga urat mencolok di dasar, dan margin bergerigi halus. Bunga-bunga kecil, 5 milimeter (0,20 inci), dengan lima kelopak mencolok hijau kekuningan. Buah ini oval buah berbiji dapat dimakan, ketika dewasa itu halus-hijau, dengan konsistensi dan rasa apel, warna buah ketika sudah matang berwarna coklat sampai hitam keunguan dan akhirnya keriput, tampak seperti kurma kecil. Ada berbiji satu dan keras  mirip dengan biji zaitun.

Putsa / Apel India

Putsa atau apel india sebenarnya tidak termasuk jenis bidara, akan tetapi masuk dalam jenis apel.

saya sengaja memasukan apel india dalam pembahasan ini karena ada kemiripan pada daun, bunga, sehingga ada juga yang menganggap putsa sebagai bidara.  Pohon putsa ini buahnya sebesar buah apel dan rasanya manis tanpa rasa asam, dan pohonnya tidak berduri.

putsa Jenis Bidara Untuk Sunnah dan Sihir

gambar putsa – apel india

Bidara Asal Negara Arab (Sidr)

Bidara yang berasal dari negara Arab (ziziphus spina christi) atau dikenal sebagai Christ’s Thorn Jujube (“bidara mahkota duri Kristus”), adalah sejenis pohon kecil yang selalu hijau, penghasil buah yang tumbuh di daerah tropis serta Asia Barat. Tumbuh di Israel di lembah-lembah sampai ketinggian 500 m.

Ziziphus spina-christi mempunyai makna penting bagi orang-orang Yahudi, Kristen dan Muslim. Menurut sejumlah tradisi, merupakan pohon penghasil ranting berduri yang dianyam menjadi “mahkota duri” dan ditaruh di kepala Yesus Kristus menjelang penyaliban-Nya.

Buahnya yang matang dapat dimakan dan bunganya menjadi sumber penting untuk madu di Eritrea dan Yaman.

Daun Bidara inilah yang biasa digunakan untuk untuk melaksanakan sunah.

daun bidara 1024x819 Jenis Bidara Untuk Sunnah dan Sihir

sidr / bidara asal Madinah

Daun bidara jenis ini yang banyak dicari untuk keperluan Sunnah, Ruqyah, dan pengobatan sihir.

Untuk daun bidara yang lain saya tidak tahu pasti apakah dapat digunakan untuk keperluan sunnah atau tidak, akan tetapi menurut saya pribadi sebaiknya gunakan daun bidara jenis ini, karena saat itu Nabi Muhammad SAW menggunakan daun bidara di daerah Mekah dan Madinah. Wallahu A’alam Bishawab.

Dalil mengobati sihir dengan daun bidara

Artikel ini membahas dalil mengobati sihir dengan daun bidara, meskipun bisa dibilang terlambat tapi tidak mengapa, yang penting Insya Allah selamat. Saya sudah lama membaca di blog yang lain tentang dalil ini, akan tetapi saya belum berani menulis disini karena saya belum membaca sendiri, paling tidak dari scan buku aslinya, karena saya tidak ingin memberikan informasi yang salah, apalagi didalam masalah agama yang dapat mengakibatkan keburukan bagi penulis sendiri maupun bagi pembaca, maka saya tahan untuk tidak menulis sampai saya mendapatkan scan dari tafsir ibnu katsir.

Alhamdulillah, saya telah mendapatkan scan tafsir Ibnu Katsir, lalu siapakah Ibnu Katsir?… Dan apakah dalil ini bisa dijadikan hujah?… Baiklah kita coba mengenal sedikit dari biografi Ibnu Katsir.

Ibnu Katsir menulis tafsir Qur’an yang terkenal yang bernama Tafsir Ibnu Katsir. Hingga kini, tafsir Alquran al-Karim sebanyak 10 jilid ini masih menjadi bahan rujukan sampai sekarang dalam dunia Islam. Di samping itu, ia juga menulis buku Fada’il Alquran (Keutamaan Alquran), berisi ringkasan sejarah Alquran.

Ibnu Katsir memiliki metode sendiri dalam bidang ini, yakni:

  1. Tafsir yang paling benar adalah tafsir Alquran dengan Alquran sendiri.
  2. Selanjutnya bila penafsiran Alquran dengan Alquran tidak didapatkan, maka Alquran harus ditafsirkan dengan hadits Nabi Muhammad, sebab menurut Alquran sendiri Nabi Muhammad memang diperintahkan untuk menerangkan isi Alquran.
  3. Jika yang kedua tidak didapatkan, maka Alquran harus ditafsirkan oleh pendapat para sahabat karena merekalah orang yang paling mengetahui konteks sosial turunnya Alquran.
  4. Jika yang ketiga juga tidak didapatkan, maka pendapat dari para tabiin dapat diambil.

Ilmu hadits

Ibnu Katsir pun banyak menulis kitab ilmu hadis. Di antaranya yang terkenal adalah :

  1. Jami al-Masanid wa as-Sunan (Kitab Penghimpun Musnad dan Sunan) sebanyak delapan jilid, berisi nama-nama sahabat yang banyak meriwayatkan hadis;
  2. Al-Kutub as-Sittah (Kitab-kitab Hadis yang Enam) yakni suatu karya hadis;
  3. At-Takmilah fi Mar’ifat as-Sigat wa ad-Dhua’fa wa al-Mujahal (Pelengkap dalam Mengetahui Perawi-perawi yang Dipercaya, Lemah dan Kurang Dikenal);
  4. Al-Mukhtasar (Ringkasan) merupakan ringkasan dari Muqaddimmah-nya Ibn Salah; dan
  5. Adillah at-Tanbih li Ulum al-Hadits (Buku tentang ilmu hadis) atau lebih dikenal dengan nama Al-Ba’its al-Hadits.

Ilmu sejarah

Bidang ilmu sejarah juga dikuasainya. Beberapa karya Ibnu Katsir dalam ilmu sejarah ini antara lain :

  1. Al-Bidayah wa an Nihayah (Permulaan dan Akhir) atau nama lainnya Tarikh ibnu Katsir sebanyak 14 jilid,
  2. Al-Fusul fi Sirah ar-Rasul (Uraian Mengenai Sejarah Rasul), dan
  3. Tabaqat asy-Syafi’iyah (Peringkat-peringkat Ulama Mazhab Syafii).

Kitab sejarahnya yang dianggap paling penting dan terkenal adalah Al-Bidayah. Ada dua bagian besar sejarah yang tertuang menurut buku tersebut, yakni sejarah kuno yang menuturkan mulai dari riwayat penciptaan hingga masa kenabian Rasulullah SAW dan sejarah Islam mulai dari periode dakwah Nabi ke Makkah hingga pertengahan abad ke-8 H. Kejadian yang berlangsung setelah hijrah disusun berdasarkan tahun kejadian tersebut. Tercatat, kitab Al-Bidayah wa an-Nihayah merupakan sumber primer terutama untuk sejarah Dinasti Mamluk di Mesir. Dan karenanya kitab ini seringkali dijadikan bahan rujukan dalam penulisan sejarah Islam.

Ilmu fiqih

Dalam ilmu fiqih, Ibnu Katsir juga tidak diragukan keahliannya. Oleh para penguasa, ia kerap dimintakan pendapat menyangkut persoalan-persoalan tata pemerintahan dan kemasyarakat yang terjadi kala itu. Misalnya saja saat pengesahan keputusan tentang pemberantasan korupsi tahun 1358 serta upaya rekonsiliasi setelah perang saudara atau peristiwa Pemberontakan Baydamur (1361) dan dalam menyerukan jihad (1368-1369). Selain itu, ia menulis buku terkait bidang fiqih didasarkan pada Alquran dan hadis.

Dalil mengobati sihir dengan daun bidara

Setelah sedikit mengenal biografi Ibnu Katsir kita langsung pada inti pembahasan yaitu dalil mengobati sihir dengan daun bidara.

dalil daun bidara Dalil mengobati sihir dengan daun bidara

dalil mengobati sihir dengan daun bidara

Scan diatas adalah dari terjemah tafsir Ibnu Katsir dalam menafsirkan Surat Al-Baqarah ayat: 102

2 102 Dalil mengobati sihir dengan daun bidara

tafsir Ibnu Katsir Al-Baqarah Al-Baqarah ayat 102

Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui. QS: 2:102

Lalu daun bidara yang manakah yang dapat digunakan untuk keperluan sunah dan untuk mengobati sihir?

Insya Allah saya akan membahasnya dilain waktu, maka silahkan berkunjung kembali untuk melihat update artikel tentang daun bidara.

Saya sebagai manusia yang awam dalam masalah Agama, mungkin terdapat banyak kesalahan dalam tulisan saya, saya minta maaf dan kepada Allah SWT saya memohon ampunan.

Silahkan mengisi komentar dibawah ini apabila Anda mempunyai pendapat atau masukan untuk kita semua.

Dalil Hadits Daun Bidara

Dalil hadits daun bidara dan pohon bidara terdapat di banyak hadist dan Alquran.
Ada beberapa Sunah didalam hadits yang menganjurkan  kita untuk menggunakan Daun Bidara, diantaranya untuk mandi wajib, mandi haid, mandi ketika kita baru masuk agama Islam, bahkan untuk memandikan jenazah.
Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa kita sebagai pemeluk agama Islam masih banyak yang belum tahu tentang pohon yang satu ini, karena di Indonesia memang masih sangat jarang, kalaupun ada biasanya pohon bidara dari jenis yang berbeda, yaitu bidara laut, bidara gunung, bidara cina, dan bidara upas.
Sebagai Umat Islam yang beriman, tentunya kita meyakini bahwa apa yang disunahkan oleh Nabi kita Muhammad SAW, pasti banyak mengandung kebaikan, baik yang sudah dibuktikan secara ilmiah maupun yang belum terbukti.
Baiklah langsung saja saya akan mengutip beberapa hadits dan ayat Al-Quran, yang didalamnya disebutkan daun atau pohon bidara.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Dan Rabbmu agungkanlah,dan pakaianmu bersihkanlah,dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah. [ Al-Muddatstsir: 3-5 ]

Rasulullah shallallahu alaihi wa ala alihi wa sallam juga bersabda,

“Kami pernah keluar bersama Nabi shallallahu alaihi wa ala alihi wa sallam ke Hunain dan ketika itu, kami baru saja meninggalkan kekafiran, dan orang-orang musyrikin memiliki pohon bidara yang mereka i’tikaf di sekitar pohon itu dan menggantungkan senjata-senjata mereka, yang pohon tersebut disebut (dinamakan) Dzatu Anwath. Kami melewati pohon tersebut kemudian berkata, ‘Wahai Rasulullah, buatkan untuk kami Dzata Anwath sebagaimana mereka mempunyai Dzatu Anwath.’ Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa ala alihi wa sallam bertakbir -dalam riwayat yang lain bertasbih-, ‘Sungguh benar-benar kalian akan mengikuti jalan-jalan orang-orang sebelum kalian sebagaimana permintaan Bani Israil kepada Musa, Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani Israil berkata:(?) ‘Buatlah untuk kami sebuah sesembahan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa sesembahan (berhala).’ Musa menjawab, ‘Sesungguhnya kalian ini adalah kaum yang jahil.’.’.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan At-Tirmidzy. Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Zhilalul Jannah no. 76)

Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Bukhary-Muslim tentang kisah Tsumamah bin Utsal radhiyallahu ‘anhu yang sengaja mandi[2] kemudian menghadap kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam untuk masuk Islam. b. Hadits Qois bin A’shim radhiyallahu ‘anhu :

أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ أُرِيْدُ الإِسْلاَمَ فَأَمَرَنِيْ أَنْ أَغْتَسِلَ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ

“Saya mendatangi Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam untuk masuk Islam maka Nabi memerintahkan kepadaku untuk mandi dengan air dan daun bidara”. (HR. Ahmad 5/61, Abu Daud no. 355, An-Nasa`i 1/91, At-Tirmidzy no. 605 dan dishohihkan oleh Al-Albany dalam Shohih At-Tirmidzy 1/187).

Hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang orang yang jatuh dari ontanya dan meninggal, Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :

اغْسِلُوْهُ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ وَكَفِّنُوْهُ فِي ثَوْبَيْنِ.

“Mandikanlah dia dengan air dan daun bidara dan kafanilah dengan dua baju”. (HR. Bukhary-Muslim).

Hadits Ummu ‘Athiyah tatkala anak Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam meninggal, beliau bersabda :

اغْسِلْنَهَا ثَلاَثًا أَوْ خَمْسًا أَوْ سَبْعًا أَوْ أَكْثَرَ إِنْ رَأَيْتُنَّ ذَلِكَ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ

“Mandikanlah dia tiga kali atau lima atau tujuh atau lebih jika kalian melihatnya dengan air dan daun bidara”. (HR. Bukhary-Muslim).

hadits ‘Aisyah bahwasanya Asma` bintu Syakal bertanya kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam tentang mandi Haid, maka Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam menjawab :

تَأْخُذُ إِحْدَاكُنَّ مَاءَهَا وَسِدْرَهَا فَتَطَهَّرُ فَتُحْسِنُ الطُّهُوْرَ ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتُدْلِكُهُ دَلْكًا شَدِيْدًا حَتَى يَبْلُغَ شُؤُوْنَ رَأْسِهَا ثُمَّ تَصُبُّ عَلَيْهَا الْمَاءَ ثُمَّ تَأْخُذُ فِرْصَةً مُمَسَّكَةً فَتَطَهَّرُ بِهَا. فَقَالَتْ أَسْمَاءُ : وَكَيْفَ أَتَطَهَّرُ بِهَا ؟ فَقَالَ : سُبْحَانَ الله تَطَهَّرِيْنَ بِهَا. فَقَالَتْ عَائِشَةُ : كَأَنَّهَا تَخْفَى ذَلِكَ تَتَبَّعِيْنَ أَثَرَ الدَّمِ.

“Hendaklah salah seorang di antara kalian mengambil air dan daun bidara kemudian bersuci dengan sempurna kemudian menyiram kepalanya dan menyela-nyelanya dengan keras sampai ke dasar rambutnya kemudian menyiram kepalanya dengan air. Kemudian mengambil sepotong kain (atau yang semisalnya-pent.) yang telah diberi wangi-wangian kemudian dia bersuci dengannya. Kemudian Asma` bertanya lagi : “Bagaimana saya bersuci dengannya?”. Nabi menjawab : “Subhanallah, bersuci dengannya”. Kata ‘Aisyah : “Seakan-akan Asma` tidak paham dengan yang demikian, maka ikutilah (cucilah) bekas-bekas darah (kemaluan)”. (HSR. Muslim)

Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Bukhary-Muslim tentang kisah Tsumamah bin Utsal radhiyallahu ‘anhu yang sengaja mandi[2] kemudian menghadap kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam untuk masuk Islam. b. Hadits Qois bin A’shim radhiyallahu ‘anhu :

أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ أُرِيْدُ الإِسْلاَمَ فَأَمَرَنِيْ أَنْ أَغْتَسِلَ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ

“Saya mendatangi Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam untuk masuk Islam maka Nabi memerintahkan kepadaku untuk mandi dengan air dan daun bidara”. (HR. Ahmad 5/61, Abu Daud no. 355, An-Nasa`i 1/91, At-Tirmidzy no. 605 dan dishohihkan oleh Al-Albany dalam Shohih At-Tirmidzy 1/187).

 

Kitab Jenazah

 Bab Ke-9: Disunnahkan Memandikan dengan Hitungan Ganjil

Ummu Athiyah r.a. (seorang wanita Anshar yang turut berbai’at, yang datang ke Bashrah untuk mencari anak nya, tetapi tidak menemukannya 2/74) berkata, “Rasulullah masuk kepada kami ketika kami sedang memandikan putri beliau seraya bersabda, ‘Mandikanlah dengan siraman yang ganjil, yaitu tiga kali, lima kali (tujuh kali), atau lebih banyak dari itu-jika kamu memandang perlu-dengan menggunakan air dan daun bidara. Berilah kapur barus di akhir kalinya.’ Beliau bersabda kepada kami ketika kami hendak memandikannya, ‘Mulailah dengan anggota badan bagian kanan dan anggota-anggota wudhunya. Jika telah selesai, maka beritahukanlah aku.’ Ketika kami telah selesai, kami memberi tahu beliau. Lalu, beliau memberikan sarung beliau kepada kami seraya bersabda, ‘Pakaikanlah (sarung ini) kepada nya.’ (Dan beliau tidak menambah dari itu, dan aku tidak mengetahui putri beliau yang mana dia itu). Kami sisir dia (dan dalam satu riwayat: lalu kami ikat rambutnya) tiga ikatan. (Dan dalam satu riwayat: Ummu Athiyah berkata, ‘Mereka uraikan rambutnya, kemudian mereka mandikan, lalu mereka ikat menjadi tiga.) (Sufyan berkata, ‘Pada dua ubun-ubunnya dan dua tanduknya.’ 2/75). Lalu, kami letakkan rambutnya ke belakang.” (Dan Ayyub memperkirakan agar memakaikan pakaian beliau kepadanya. Begitulah Ibnu Sirin memerintahkan agar mayat wanita dikenakan padanya pakaian dan tidak dipakaikan sarung padanya).

Bab Ke-20: Memberikan Harum-haruman kepada Mayat

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Mengenai orang yang terjatuh dari kendaraannya kemudian meninggal, mandikanlah ia dengan air dan daun bidara, dan kafankanlah dengan dua lapis kainnya.” Muttafaq Alaihi. 4:yakni dengan kedua pakaian ihramnya. Saat itu ia sedang wuquf di Arafah pada haji wada’. Kelanjutan sabda beliau adalah: Janganlah kamu membalsamnya dan jangan menutupi kepalanya, karena sesungguhnya Allah akan membangkitkannya pada hari kiamat sebagai orang yang bertalbiyah).

Didala Al-Quran pohon bidara disebutkan di beberapa ayat:

56. AL WAAQI’AH (HARI KIAMAT) ayat 28

berada di antara pohon bidara yang tak berduri,

34. SABA‘ (NEGERI SABA)

Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr / bidara

.
53. AN NAJM (BINTANG
(Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.

Itulah beberapa hadits dan ayat Al-Quran yang didalamnya menyebutkan daun bidara maupun pohon bidara.

Dan saya menganggap pohon bidara adalah pohon paling unik, karena dapat kita temui baik di alam dunia maupun alam akhirat.

Dari berbagai sumber.

 

 

Kandungan kimia daun bidara

Artikel ini menjelaskan kandungan kimia Daun Bidara dalam serangkaian penelitian tanaman bidara yang dikenal untuk penggunaannya dalam pengobatan tradisional dan yang juga telah terbukti sangat baik dalam aplikasi kosmetik dan perlengkapan mandi.

NAMA LAIN DARI BIDARA / SIDR
Orang-orang Arab menyebutnya Nabka. Sudan: Nabag, Nabak, Cidir, duri Kristus (dalam cerita rakyat, tanaman ini dikatakan menjadi sumber dari mahkota duri yang ditempatkan pada kepala Juruselamat. Nigeria: Kurna. Dalam bahasa Inggris itu dikenal sebagai Dom, duri-Yerusalem atau duri Kristus, Di Perancis disebut Paliure, Epine du Christ, porte-chapeau, capelets, argolou dan arnaves.

Kandungan daun bidara untuk bahan kosmetik
Komposisi kimia dari minyak  daun bidara (Zizyphus spina-christi)  diperoleh dengan menggunakan metode destilasi memiliki komponen utama: geranyl aseton (14,0%), metil hexadecanoate (10,0%), metil octadecanoate (9,9%), farnesyl aseton C (9,9%), hexadecanol (9,7%) dan etil octadecanoate (8.0%). 

Manfaat
Semua bagian tanaman yang digunakan oleh orang-orang Arab setempat untuk membantu mempertahankan gaya hidup sehat. Tanaman ini juga telah digunakan untuk menginduksi tidur yang baik karena memiliki sifat menenangkan. Di Arab Saudi digunakan untuk pengobatan bisul, luka, penyakit mata dan bronkitis. Orang – orang Badui menggunakannya untuk pengobatan luka, penyakit kulit dan sebagai anti-inflamasi. Mereka juga menggunakannya sebagai obat penurun panas dan diuretik. Pohon bidara banyak terdapat di Iran bagian selatan. Pohon bidara secara lokal dikenal sebagai “Sidr” dan “Konar”, telah digunakan untuk mencuci rambut dan tubuh. Daun tanaman juga digunakan dalam obat rakyat Iran sebagai antiseptik, antijamur dan anti-inflamasi, dan untuk menyembuhkan penyakit kulit seperti dermatitis atopik. Di China telah digunakan sebagai bentuk kontrol kelahiran. Air extract daun bidara memiliki sifat antinociceptive dalam uji coba pada tikus dan memiliki efek menenangkan pada sistem saraf pusat. Ini telah dijelaskan sebagai anticathartic, diuretik zat, dan tonik.

Deskripsi
Pohon bidara berbunga sekitar bulan Juli hingga Agustus, dan biji matang dari Oktober sampai Desember. Bunga-bunga wangi yang hermaprodit (memiliki jenis bunga jantan dan bubga betina). Tanaman ini memiliki bunga kecil berbulu putih yang sangat wangi. Komposisi kimia Tanaman ini telah diteliti secara luas dan telah diketahui komposisi kimianya. Konstituen utama dari minyak esensial adalah alpha-terpineol (16,4%) dan linalool (11,5%). Hidrokarbon netral dalam bentuk n-pentacosane adalah (81%). Metil ester yang diisolasi dari daun bidara termasuk metil palmitat, metil stearat dan metil miristat. beta-sitosterol, asam oleanolic dan asam maslinic adalah aglikon utama dari glikosida terdapat dalam daun bidara. Kandungan gula dalam daun bidara adalah laktosa, glukosa, galaktosa, arabinosa, xilosa dan rhamnosa, dan juga berisi empat glikosida saponin. Kandungan flavonoid tertinggi ditemukan dalam daun (0,66%). Terdapat kandungan quercetin 3-O-rhamnoglucoside 7-O-rhamnoside yang merupakan senyawa flavonoid utama pada semua bagian tanaman. Komposisi kimia tanaman bidara terbukti sangat kompleks dan lengkap, selain alkaloid, terdapat zizyphine-F, jubanine-A dan amphibine-H, sebuah peptida baru alkaloid spinanine-A telah diisolasi dari kulit batang pohon bidara. Spinanine-A adalah salah satu dari 14 jenis cyclopeptide alkaloid jenis amphibine-B.

kandungan kimia daun bidara Kandungan kimia daun bidara

kandungan kimia daun bidara

Daun Bidara Untuk Anti-mikroba
Daun Bidara telah terbukti dapat membasmi bakteri, jamur dan juga patogen lain yang biasanya cukup tahan.

Antioksidan
The polyphenols of Yemeni plants telah melakukan uji coba dengan ferrylmyoglobin untuk menentukan kandungan antioksidan daun bidara yang ditujukan untuk mengurangi degradasi oksidatif. Efek pertahanan dari saponin pada daun bidara dari cultured myocardial yang terkena anoxia-reoxygenation ditentukan dan ditemukan bahwa peroksidasi lipid berkurang. 

Penggunaan untuk bahan makanan
Konstituen kimia mengkonfirmasi penggunaan menguntungkan buah sebagai tonik (Tabel 1). Buah rasa seperti campuran kurma dan apel dan sangat dihargai oleh suku Badui karena memiliki nilai energi yang sangat tinggi. Buah dapat dimakan mentah atau dikeringkan dan buah bidara memiliki rasa sedikit asam menyegarkan, sedikit menyerupai apel kering. Biji bidara kaya protein, kalsium, zat besi dan magnesium. Makanan dari tanaman ini merupakan sumber energi, protein dan mineral yang sangat penting.Sifat Tonik dari buah bidara dapat meningkatkan nafsu makan, dan dapat digunakan juga sebagai pencahar dan telah digunakan sebagai obat cacingan (vermifuge). Buah bidara juga menyegarkan dan mengembalikan, serta meningkatkan kecerdasan otak dan merupakan obat untuk tekanan darah tinggi. Di bagian barat Sudan buah bidara dianggap makanan lezat, (Kordofan, Darfur): pulp pahit-manis buah dikeringkan dan digiling untuk menghasilkan tepung. Salah satu metode untuk menggunakan tepung ini adalah menggunakan cangkir logam kecil dimasak dengan uap.
Efek hipoglikemik dan antihyperglycemic dari bidara telah dibuktikan para peneliti.

Perawatan kulit dan rambut
Tanaman ini sudah digunakan di banyak bagian dunia untuk perawatan kulit. Komposisi kimia dan fitokimia yang terdapat pada bubuk daun bidara dapat menghitamkan dan memanjangkan rambut wanita. 

Daun Bidara Melindungi kulit
Sebuah penelitian dilakukan di mana air rendamam  daun bidara (direndam dalam air selama 24 jam) Pengujian radiasi sinar UV pada kulit menggunakan simulator Oriel surya dan satu aplikasi dari produk gel. Warna kulit dievaluasi  (khusus untuk kulit kemerahan) menggunakan Chromameter Minolta. 80% dari subyek menunjukkan penurunan dalam kulit memerah dan gel mengurangi kemerahan dengan 17,51% di semua percobaan.
 
Sebagai antioksidan
Peroksidasi lipid memainkan peran penting dalam dalam masalah perawatan kulit dan memperbaiki kondisi kulit kepala. Peroksidasi dan kerusakan oksidatif lainnya dapat disebabkan oleh kerusakan lingkungan yang menghasilkan radikal bebas (seperti polusi knalpot, asap industri, ozon, sinar UV, asap rokok, dll,) dan oleh kerusakan biologis seperti mikro-organisme dan kondisi yang merugikan lainnya. Hal ini dapat mengakibatkan masalah bagi kulit dan kulit kepala. Untuk menghindari efek samping dari peroksidasi lipid, penggunaan antioksidan adalah hal yang wajar.

Melindungi kerusakan DNA
Khasiat bidara untuk melindungi sel DNA manusia yang disebabkan oleh kerusakan dari radiasi actinic diuji menggunakan alat tes kontrol dimodifikasi oleh Regentec, spin dari perusahaan riset dari Universitas Nottingham. Kerusakan DNA manusia dapat disebabkan oleh kerusakan yang telah dijelaskan dalam kerja antioksidan di atas.

Penulis: Anthony C. Dweck FLS FRSC

References
1 Abbiw D.K. Useful plants of Ghana – West African use of wild and cultivated plants. Intermediate Technology Publications and the Royal Botanic Gardens Kew. 1990. ISBN No. 1-85339-043-7 or 1-85339-080-1 Hardback.
2 Abdel-Galil F.M., El-Jissry M.A. Cyclopeptide alkaloids from Zizyphus spina-christi. Phytochemistry v. 30 (4): p. 1348-1349; 1991.
3 Adzu B., Amos S., Wambebe C., Gamaniel K. Antinociceptive activity of Zizyphus spina-christi root bark extract. Fitoterapia. 2001, 4, 72, p.344-350.
4 Adzu B., Amos S., Dzarma S., Wambebe C., Gamaniel K. Effect of Zizyphus spina-christi Willd aqueous extract on the central nervous system in mice. Journal of Ethnopharmacology. 2002, 79, 1, p.13-16.
5 Amin G. Popular Medicinal Plants of Iran. Vol.1. Ministry of Health Publications, Tehran. p 67 (1991).
6 Aynehchi Y., Mahoodian M. Chemical examination of Zizyphus spina-christi (L.) Willd. Acta Pharm Suec, 1973 Dec;10(6):515-9.
7 Brantner A.H., Males Z. Quality assessment of Paliurus spina-christi extracts. Journal of Ethnopharmacology. 1999, 66,2,175-179.
8 Effraim K.D., Osunkwo U.A2, Onyeyilli, P3, Ngulde A. Activity of aqueous leaf extract of Ziziphus spina-Christi (Linn) Desf. Indian J Pharmacol 1998; 30: 271-272.
9 Duke J.A. and Ayensu E.S. Medicinal Plants of China. Reference Publications, Inc. 1985. ISBN 0-917256-20-4.
10 Facciola S. Cornucopia – A Source Book of Edible Plants. Kampong Publications 1990 ISBN 0-9628087-0-9.
11 Ghannadi, Alireza, Tavakoli, Naser, Mehri-Ardestani, Mozhgan: Volatile constituents of the leaves of Ziziphus spinachristi (L.) Willd. from Bushehr, Iran. Journal of Essential Oil Research: JEOR, May/Jun 2003.
12 Glombitza K.W., Mahran G.H., Mirhom Y.W., Michel K.G., Motawi T.K. Hypoglycemic and antihyperglycemic effects of Zizyphus spina-christi in rats. Planta Med 1994 Jun;60(3):244-7.
13 Grieve, Maud. A Modern Herbal – the medicinal, culinary, cosmetic and economic properties, cultivation and folklore of herbs, grasses, fungi, shrubs and trees with all their modern scientific uses. 1998 Tiger Books International, London. ISBN No.1-85501-249-9.
14 Ikram M., Tomlinson H. Chemical constituents of Zizyphus spina christi. Planta Med 1976 May;29(3):289-90.
15 Irvine F.R. (1961) Woody Plants of Ghana. With special reference to their uses. London: Oxford University Press.
16 Islam, M.W., Radhakrishnan R., Liu X.M., Chen H.B., Al-Naji M.A. Safety evaluation of Zizyphus spina-Christi L. and Teucrium stocksianum Boiss, used in traditional Medicine in the Arabian gulf. International Congress and 49th Annual Meeting of the Society for Medicinal Plant Research (Gesellschaft for Arzneipfianzenforschung), September 2-6, 2001, Erlangen, Germany.
17 Levy J. de Bairacli: The illustrated herbal handbook for everyone. 1991 4th edition. Faber and Faber. ISBN No. 0-571-16099-9.
18 Lawton R.M. (1985) Some indigenous economic plants of the Sultanate of Oman. In: Wickens G.E., Goodin J.R., Field D.V. (eds) Plants for arid lands. Unwin Hyman, London.
19 Mahran, G.E.D.H., Glombitza K.W., Mirhom Y.W., Hartmann R., Michel C.G. Novel saponins from Zizyphus spina-christi growing in Egypt. Planta Medica (1996) 62(2): 163-165.
20 Nafisy A.T. A Review of Traditional Medicine in Iran. Isfahan University Publications, Isfahan. p 133 (1989).
21 Nazif N.M. Pharmacognosy and Chemistry of Medicinal Plants, National Research Centre, Dokki, Cairo 12311, Egypt. Food Chemistry. 2002, 76, 1, p.77-81. SN- 0308-8146.
22 Safai-Ghomi 1998. Extracts of Z. spina-christi for cosmetics & psoriasis; US Patent 5,849,302. Also EP 0 815 842 A2 in Europe.
23 Shahat A.A., Pieters L., Apers S., Nazeif N.M., Abdel-Azim N.S., Berghe D. vanden., Vlietinck A.J. Chemical and biological investigations on Zizyphus spina-christi L. 2001, 15, 7, p.593-597.
24 Younes M.E., Amer M.S., El-Messallami A.D.E. Phytochemical examination of the leaves of the Egyptian Zizyphus spina christi “Nabc”. Bulletin of the National Research Centre (Cairo) (1996) 21(1): 35-40.
25 Zakaria M.N.M., M.W. Islam R., Radhakrishnan A., Ismail M., Habibullah and K. Chan. Antidiabetic properties of Zizyphus spinachristi in STZ- diabetic mice. “2000 Years of Natural Products Research – Past Present and Future”, Amsterdam, July 26-30 1999.6400 mg/kg) [Islam et al].”>

Manfaat dan khasiat daun bidara

Khasiat Daun Bidara sudah terbukti secara ilmiah banyak mengandung manfaat. Salah satu Manfaat Daun Bidara adalah untuk obat jerawat, membersihkan kulit dari kotoran, dan menjaga kulit dari kerusakan. Bahkan rendaman daun bidara dapat melidungi kulit dari kerusakan yang diakibatkan oleh sinar UV matahari.
Khasiat daun bidara sangat bermanfaat untuk obat  jerawat, terutama bagi kaum muda yang memiliki kulit berminyak. karena kulit berminyak sangat rentan terhadap masalah jerawat, sehingga dapat merusak kulit, dan merusak keindahan wajah.

Manfaat daun bidara telah terbukti dapat membasmi bakteri, jamur dan juga patogen lain yang menjadi pemicu timbulnya jerawat.

Baiklah saya langsung saja memberikan cara menggunakan daun bidara untuk perawatan kulit dan obat jerawat

Cara penggunaan: 
Ambil beberapa daun bidara ( sidr ) lalu ditumbuk halus lalu masukan kedalam cangkir atau mangkuk, lalu tambahkan sedikit air sehingga campuran agak sedikit kental dan kemudian oleskan pada kulit wajah sebagai masker, dan biarkan beberapa saat hingga mengering seluruhnya.
lalu cuci dengan air bersih saja, tanpa perlu menggunakan sabun, Anda akan langsung dapaat melihat perbedaan kehalusan kulit  anda.
Daun bidara ( sidr ) juga dapat digunakan untuk peremajaan kulit tubuh.
Untuk memberikan hasil yang signifikan sehingga terlihat perbedaan yang sangat besar pada kulit, Anda harus melakukan hal tersebut selama 2 bulan.

Semoga tips ini bermanfaat, dan bagi yang ingin menanam Pohon Bidara silahkan baca harga bibit pohon bidara

Selamat mencoba

Sumber: brooonzyah.net/vb/t27596.html